KEFAMENANU, JURNALNTT – Pendaratan perdana pesawat Kefa Air di Bandara Jack Ukat bukan hanya membuka akses udara baru bagi Bumi Biinmaffo, tetapi juga menjadi momentum mengenang jasa para pemimpin terdahulu.
Di hadapan ribuan warga dan jajaran Forkopimda, Bupati Timor Tengah Utara, Yosep Falentinus Delasalle Kebo menjelaskan alasan di balik penamaan bandara tersebut.
Menurutnya, nama ” Jack Ukat ” dipilih bukan tanpa alasan. Itu adalah bentuk penghormatan kepada mantan Bupati TTU yang berasal dari wilayah Bikomi, tempat bandara itu berdiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya ketika memilih nama Bandara Jack Ukat ini, ketika sudah melihat bahwa ini akan direalisasikan, saya berdiri di ruangan saya dan saya melihat siapa bupati yang dari Bikomi. Saya cek satu-satu dan ternyata Pak Jack Ukat. Sehingga saya bilang bandara ini berada di wilayah Bikomi, maka harus pakai nama orang Bikomi. Sehingga dipilihlah Bapak Jack Ukat sebagai nama bandara resmi,” ungkap Bupati Falen Kebo, Rabu (15/7/2026).
Orang nomor satu di TTU ini menegaskan, kebijakan memberi nama tokoh pada fasilitas publik akan menjadi tradisi baru di TTU. Tujuannya sederhana : agar jasa para pendahulu tidak dilupakan.
“Jadi semua yang kita gunakan dan manfaatkan di TTU, baik nama-nama jalan, gedung maupun bangunan untuk umum, kita akan menggunakan nama bupati yang sudah mendahului kita, atas jasa-jasa mereka selama mereka menjabat,” katanya.
Komitmen ini akan terus berlanjut.
“Jadi apa pun, yang akan kita bangun, kita akan beri nama, nama-nama mantan bupati yang sudah mendahului kita,” katanya.
Bagi Pemkab TTU, Bandara Jack Ukat lebih dari sekedar infrastruktur. Bandara ini kini menjadi simbol. Simbol penghubung antarwilayah, sekaligus pengingat bahwa setiap pembangunan hari ini berdiri di atas fondasi pengabdian para pemimpin masa lalu***.
Penulis : Mario
Editor : Maryo Usboko
Sumber Berita: JurnalNTT






