Menolak Politik Identitas Para Bandit Politik di NTT

- Editor

Sabtu, 4 Mei 2024 - 21:20 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Pujangga Niccolo Machiavelli berpandangan, untuk mempertahankan kekuasaan, seorang penguasa diperbolehkan berbohong, menipu dan menindas. Politisi yang tak beretika sering dicap sebagai “machiavellis”. Machiavellis sama dengan penjahat atau bandit.

Bandit politik artinya penjahat/perampok politik. Para bandit politik sering merampok hak-hak politik rakyat, termasuk menindas rakyat dengan mempraktikkan politik identitas.

Bagi para bandit politik identitas; suku, agama dan ras merupakan isu seksi yang layak dipelihara dan dijual demi kekuasaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Politik sejatinya merupakan sarana untuk memperjuangkan kemaslahatan rakyat. Namun hakikat politik itu sering kali mengalami disorientasi. Orientasi para bandit politik adalah kekuasaan.

Para bandit atau machiavellis politik ini menggerus esensi demokrasi. Mereka tidak mengenal etika dan kebajikan politik. Perbanditan politik ini melahirkan praktik politik despotik. Praktik politik despotik tidak mengenal nilai kemanusiaan bahkan bernafsu “membunuh” lawan politiknya.

Bandit politik tidak hanya berada di aras politik nasional. Namun mereka juga bercokol di aras politik lokal.

Baca Juga  Trivonia Nahak, TKW yang Nyasar di Aceh Akhirnya Bisa Lepas Rindu dengan Keluarga di Wemasa

Di aras politik lokal Nusa Tenggara Timur (NTT), politik identitas dipelihara dan dipraktikkan oleh para bandit politik. Mereka mempraktikkan politik identitas “Orang Timor pilih orang Timor”, orang Rote pilih orang Rote”, “orang Flores pilih orang Flores”, orang Katolik pilih orang Katolik, orang Protestan pilih orang Protestan dan isu politik identitas lainnya. Politik identitas merupakan senjata ampuh bagi para bandit politik untuk “membunuh” lawan politik yang berasal dari suku, ras dan agama minoritas.

Praktik perbanditan politik identitas ini menggerus ruang partisipasi politik bagi figur-figur politik potensial yang secara kodrat terlahir dari rahim seorang ibu dari etnis minoritas di setiap daerah. Figur-figur potensial yang berasal dari etnis minoritas akan sukar menjadi pemimpin. Figur dari suku, agama dan ras minoritas akan takut kalah dan mengalami lack of confidence sebelum bertarung dalam hajatan politik. Ataupun terpaksa bertarung namun berkahir dengan kekalahan.

Baca Juga  Mantan Bupati Kupang, Korinus Masneno Diperiksa Polisi Terkait Kasus Pembangunan GOR

Bandit politik identitas yang terpilih dan berkuasa melalui proses yang diyakini “demokratis” memiliki kecenderungan mempraktikkan kekuasaan primordialisme yang dapat memunculkan diskriminasi, konflik dan menghambat hubungan antar kelompok.

Bandit politik identitas yang berkuasa memiliki kecenderungan mempraktikkan ketidakadilan dalam kekuasaannya. Kebijakan yang lahir dari para bandit politik identitas ini cenderung primordial sehingga menguntungkan suku, agama dan ras tertentu.

Politik identitas di NTT terus dipelihara dan dipupuk. Isu politik identitas dikemas secara rapih. Alih-alih dibentuk sebagai wadah pemersatu etnis tertentu, banyak komunitas etnis yang dibangun justeru “dibajak” para bandit politik ini ke ranah politik praktis berbau identitas.

Para bandit politik ini ibarat serigala berbulu domba. Mereka biasanya bicara idealis dalam forum-forum intelektual. Namun di tataran politik praktis, segala cara mereka gunakan untuk meraih kekuasaan. Tidak hanya identitas suku agama dan ras, namun uang juga dijadikan sebagai instrumen untuk mencapai kekuasaan.

Baca Juga  Silaturrahmi Sparing Voly Ibu-Ibu KKBD Kota Kupang VS Ibu-Ibu Bekang 44-01-Kupang.

Praktik perbanditan politik identitas ini telah menciptakan dikotomi sosial di dalam masyarakat. Masyarakat dibentuk menjadi individu-individu primordial yang acap kali intimidatif terhadap suku, agama dan ras minoritas.

Praktik perbanditan politik identitas ini jelas tidak edukatif dan merupakan pembodohan rakyat. Rakyat seharusnya mendapatkan political socialization untuk mencapai aktualisasi diri dalam kedudukannya sebagai warga negara.

Para bandit yang menggunakan politik identitas sebagai alat politik harus dilawan dengan cara tidak memilih mereka. Political socialization perlu dilakukan agar rakyat semakin cerdas dalam menggunakan hak politiknya. Jika rakyat cerdas dalam menggunakan hak politiknya maka hakikat politik sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan niscaya bisa tercapai.

Vox Populi Vox Dei (suara rakyat suara Tuhan).

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Seorang Ayah di TTU Tebas Anak Kandung dengan Parang
Polres TTU Gelar Pasukan, Operasi Keselamatan Turangga 2026 Resmi Dimulai
Pemerintah Kecamatan Biboki Anleu Mulai Tertibkan Ternak yang Berkeliaran Bebas
Personel Satgas Pamtas Yonarhanud 2 Kostrad Jadi Tenaga Pendidik di SDK Benus
Pemkab TTU Digugat Rp 4,2 Miliar, Dalam Dugaan Kasus Pengadaan Vaksin dan Digitalisasi Puskesmas
Sikap Tegas BGN, SPPG Insana Susulaku di TTU Dihentikan Sementara
Merasa Dipimpongi, Keluarga Aprianto Tikneon Minta Kasus Penganiayaan Diambil Alih Polda NTT
Diduga Alami Gejala Keracunan Setelah Konsumsi MBG, Ratusan Siswa SMA Negeri 1 Insana Terpaksa Dipulangkan
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 08:34 WITA

Seorang Ayah di TTU Tebas Anak Kandung dengan Parang

Jumat, 13 Maret 2026 - 07:45 WITA

Polres TTU Gelar Pasukan, Operasi Keselamatan Turangga 2026 Resmi Dimulai

Rabu, 11 Maret 2026 - 06:48 WITA

Personel Satgas Pamtas Yonarhanud 2 Kostrad Jadi Tenaga Pendidik di SDK Benus

Senin, 9 Maret 2026 - 08:56 WITA

Pemkab TTU Digugat Rp 4,2 Miliar, Dalam Dugaan Kasus Pengadaan Vaksin dan Digitalisasi Puskesmas

Sabtu, 7 Maret 2026 - 08:36 WITA

Sikap Tegas BGN, SPPG Insana Susulaku di TTU Dihentikan Sementara

Berita Terbaru

Bupati Kupang, Yosef Lede, SH

ADVERTORIAL

Bupati Kupang Gencarkan Cek Kesehatan Gratis

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:30 WITA

BERITA

Seorang Ayah di TTU Tebas Anak Kandung dengan Parang

Jumat, 13 Mar 2026 - 08:34 WITA