KEFAMENANU, JURNALNTT – Ketika banyak anak muda Timor Tengah Utara memilih merantau, seorang pastor justru turun ke kebun. Pater Krispinus Leo SVD, imam Serikat Sabda Allah, yang bertugas di Paroki St. Fransiskus Asisi Mamsena setiap hari menggenggam cangkul, menyiram tanaman, dan memetik tomat bersama warga.
Jubah putih dan salib di dadanya tidak menghalangi lumpur menempel di sepatunya. Bagi dia, ladang adalah mimbar baru untuk mewartakan martabat manusia.
“Ini bukan soal pertanian saja. Ini soal martabat. Tuhan titipkan tanah, kita yang harus garap. Kalau kita malas, siapa yang mau makan?” kata Pater Krispinus di kebun Kelompok Tani Soverdian Mamsena, Selasa (1/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tiga tahun lalu, Pater Krispinus gelisah. Di sekitar paroki, banyak pemuda menganggur. Sementara orang tua di desa harus melepas hasil kebun ke tengkulak dengan harga murah.
Dari kegelisahan itu lahir Kelompok Tani Soverdian Mamsena. “Soverdian” diambil dari semangat SVD: Sabda dan Karya.
Awalnya hanya 1 hektare lahan semak. Gagal tanam, coba lagi. Kini lahan itu berkembang menjadi 10 hektare tomat dan cabai.
Perjalanan itu tidak mulus. Modal terbatas, air susah, hama datang silih berganti. Pater Krispinus lalu belajar. la mendatangi Dinas Pertanian, mengundang penyuluh, dan mempraktikkan langsung di lapangan.
“Kami bagi tugas. Yang kuat cangkul, yang teliti pegang pembukuan, yang muda urus pemasaran lewat HP,” ujarnya.
Efeknya terasa. Anggota kelompok bertambah dari 12 orang menjadi sekitar 40 orang. Mayoritas berusia 20-35 tahun.
Di kebun ini ada jadwal piket, arisan pupuk, dan kas kelompok. Ada pencatatan sederhana. Ada pupuk organik dan tumpang sari untuk menjaga tanah.
Setiap panen, puluhan karung tomat dan cabai keluar dari kebun. Hasilnya dijual ke Pasar Kefamenanu, rumah makan, hingga disuplai ke sekolah-sekolah untuk program Makan Bergizi Gratis.
Yang membedakan Pater Krispinus adalah caranya mengajak. la tidak berkhotbah dari mimbar. la bekerja bersama.
“Anak muda, kalau mau HP baru, motor baru, jangan minta orang tua. Ayo ke kebun. Tiga bulan tanam cabai, hasilnya bisa buat beli. Malu bertani itu yang bikin kita miskin,” katanya.
Kalimat itu menampar, tapi juga menyadarkan. Perlahan stigma “bertani pekerjaan kelas dua” mulai luntur.
Bagi umat Katolik di Paroki Mamsena, kehadiran Pater Krispinus di kebun adalah teologi yang dipraktikkan. Setiap pagi dimulai dengan doa di pematang. Hasil panen disisihkan untuk gereja, anak yatim, dan pengembangan kebun.
“Ini berkat Tuhan yang harus dibagi,” ucapnya.
Gerakan ini mendapat apresiasi. Seorang penyuluh pertanian menyebutnya “role model”. “Pastor yang mau kotor-kotoran demi rakyat. Harusnya banyak yang seperti Pater Krispinus,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten TTU juga turun tangan. Bupati Falentinus Kebo menyerahkan satu unit traktor untuk kelompok.
“Kami berterima kasih kepada Bapak Bupati Falentinus Kebo. Bantuan traktor ini sangat membantu pengembangan pertanian rakyat Mamsena dan TTU pada umumnya,” kata Pater Krispinus.
Pater Krispinus tidak ingin kisah Soverdian Mamsena berhenti di satu kelompok. la ingin lebih banyak anak muda TTU melihat tanah kelahirannya sebagai masa depan, bukan tempat yang harus ditinggalkan.
“Timor tanahnya subur. Air ada, matahari ada, orangnya rajin. Yang kurang hanya kemauan. Mari kita buktikan bahwa dari TTU, petani bisa jadi tuan di tanah sendiri,” tutupnya.***
Penulis : Mario
Editor : Maryo Usboko
Sumber Berita: JurnalNTT






