KEFAMENANU, JURNAL NTT – Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Timor Tengah Utara, Trimeldus Tonbesi menyebut saat ini wabah ASF tersebar di 12 kecamatan di Kabupaten TTU.
Diduga penyebaran ASF menyesuaikan dengan kelembaban karena saat ini telah memasuki musim panas.
Tonbesi menjelaskan, penyakit ternak babi virus ASF di TTU belum terdeteksi, meski ada laporan ternak milik masyarakat mati, setelah dilakukan pemeriksaan ternak babi tersebut terkena penyakit bakteri yang menyebabkan diare berat dan dehidrasi, biasanya menyebar di dalam air.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Babi yang terserang ASF menunjukan gejala demam tinggi, kemerahan pada kulit terutama moncong dan telinga, sesak nafas, nafsu makan hilang, kejang-kejang dan pada akhirnya mati.
Penularan ASF dapat terjadi melalui kontak langsung dengan babi yang sakit, serta melalui pakan dan minuman yang tercemar virus.
Meskipun belum ada vaksin yang tersedia untuk mencegah penyakit ASF pada babi, upaya pencegahan yang ketat dan kerjasama antara pemerintah, peternak, dan masyarakat dapat membantu mengurangi resiko penyebaran penyakit ASF dan melindungi industri babi dari kerugian yang besar.
Dinas Peternakan TTU juga telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran ASF, termasuk edukasi kepada peternak tentang biosekuriti dan penyemprotan disenfektan di kandang.***






