Rawan Pangan, Warga Desa Alala dan Desa Nanebot Terpaksa Makan Sagu

- Editor

Sabtu, 27 Januari 2024 - 08:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petrus Manone, warga Desa Alala dipotres media ini usai menjemur lempengan sagu yang akan diolah menjadi makanan sehari-hari. Foto : SK/JN

Petrus Manone, warga Desa Alala dipotres media ini usai menjemur lempengan sagu yang akan diolah menjadi makanan sehari-hari. Foto : SK/JN

Betun,jurnal-NTT.com – Kondisi rawan pangan yang terjadi di Desa Alala, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, Provinsi NTT, memaksa sebagian warga harus makan sagu.

Petrus Manone, warga Desa Alala yang ditemui media ini, Rabu (25/01/2024), mengaku harus makan sagu karena sudah kehabisan stok makanan berupa hasil panen jagung di musim tanam tahun 2023.

Ia juga mengaku, harus memakan sagu karena tidak mampu membeli beras karena harga beras sangat mahal yakni Rp 16.000 per kilo gram.

Petrus mengatakan, ia bersama sang istri dan anak-anaknya harus berusaha keras menebang pohon sagu untuk dikeringkan dan diolah menjadi makanan sehari-hari.

“Kalau tidak makan sagu terus kami mau makan apa. Jagung sudah habis. Mau beli beras tapi kami tidak punya uang. Apalagi saat ini harga beras sangat mahal”, jelasnya.

Petrus yang saat ditemui media ini sedang dalam kondisi sakit, mengaku pasrah dengan kondisi rawan pangan yang mereka alami saat ini.

Baca Juga  STIKUM dan UNITAL Gelar Seminar Internasional : Peranan Hukum Adat Dalam Penyelesaian Masalah Sosial di Wilayah Perbatasan RI - Timor Leste

“Kami pasrah dengan keadaan saat ini. Kami tidak tahu harus berbuat apa. Walaupun saya sakit tapi saya harus tetap bekerja untuk mencari makanan”, ungkapnya.

Senada dengan Petrus Manone, Martinus Klau, warga Desa Nanebot juga mengaku harus menjadikan sagu sebagai makanan sehari-hari.

“Sekarang ini kami harus makan sagu. Karena stok jagung sudah habis. Mau beli beras tapi uang tidak ada. Jadi terpaksa makan sagu,” ungkapnya.

Baca Juga  Dukung Kawasan Pemukiman Warga Eks Tim-Tim, Bupati Kupang Peletakan Batu Pertama Pembangunan SPAM

Menurutnya, kondisi rawan pangan di Desa Nanebot tidak hanya dialami oleh keluarganya. Namun kondisi rawan pangan ini dialami juga oleh sebagian besar warga Desa Nanebot.

Martinus berharap, Pemerintah Kabupaten Malaka, bisa memperhatikan kondisi rawan pangan yang terjadi di Desa Nanebot.

Pantauan media ini, Rabu (24/01/2024), Petrus Manone bersama sang isteri sibuk menjemur lempengan sagu yang telah dari pohon sagu. (tim)

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Peningkatan Jalan Kota Kefamenanu Kebut Progres, Tiga Ruas Telah Rampung Di – Hotmix
Kejari TTU Tegaskan Surat Soal Dana Bos yang Catut Nama Kajari Adalah Palsu
Pemkab TTU Serahkan SK Redistribusi untuk 170 Guru PPPK
Gerak Cepat, BPBD TTU Siapkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di Banain B
Kebakaran di Banain B TTU, Satu Rumah Hangus Tak Bersisa
Dari TTU, Siswa SMA Negeri Manamas Belajar Wirausaha dari Kebun Sekolah
Aktivitas Pemerintahan TTU Kembali Terpusat, Bupati Targetkan Pindah 22 Oktober
Musda XI Golkar TTU Usung Kamilus Elu Sebagai Calon Tunggal Ketua DPD II
Berita ini 119 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:25 WITA

Peningkatan Jalan Kota Kefamenanu Kebut Progres, Tiga Ruas Telah Rampung Di – Hotmix

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:36 WITA

Kejari TTU Tegaskan Surat Soal Dana Bos yang Catut Nama Kajari Adalah Palsu

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:38 WITA

Pemkab TTU Serahkan SK Redistribusi untuk 170 Guru PPPK

Minggu, 18 Oktober 2026 - 18:23 WITA

Gerak Cepat, BPBD TTU Siapkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di Banain B

Minggu, 18 Oktober 2026 - 08:06 WITA

Kebakaran di Banain B TTU, Satu Rumah Hangus Tak Bersisa

Berita Terbaru

BERITA

Pemkab TTU Serahkan SK Redistribusi untuk 170 Guru PPPK

Kamis, 22 Okt 2026 - 08:38 WITA

oppo_2

BERITA

Kebakaran di Banain B TTU, Satu Rumah Hangus Tak Bersisa

Minggu, 18 Okt 2026 - 08:06 WITA