BMKG Sebut, Malaka Bisa Jadi Lumbung Garam Industri Nasional

- Editor

Kamis, 5 Agustus 2021 - 19:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Betun, jurnal-NTT.com – Kondisi alam Nusa Tenggara Timur mendukung provinsi itu menjadi salah satu pusat industrialisasi garam. Butuh topangan dari sektor lain agar NTT bisa menjadi salah satu lumbung garam industri nasional.

“Produksi garam bergantung pada tingkat penguapan di tambak garam bersangkutan. Beberapa parameter iklim seperti curah hujan, suhu, intensitas radiasi matahari, kelembapan udara, dan kecepatan angin mempengaruhi laju penguapan air dengan kandungan garam yang berbeda-beda”, kata Marjuki, koordinator bidang Informasi Iklim Terapan, Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan BMKG dalam webinar Swasembada Garam Nasional Dari Nusa Tenggara Timur, Kamis (5/8/2021).

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menunjukkan, NTT mengalami periode kering hingga 8 bulan per tahun. Waktu penyinaran matahari di NTT lebih lama dibandingkan beberapa daerah pusat produksi garam nasional. Kombinasi waktu penyinaran lama dan periode hujan pendek membuat NTT unggul dibandingkan daerah lain.

Produksi akan lebih optimal jika lahan terletak di pantai.Sayangnya, potensi garam NTT belum optimal dimanfaatkan. Sejumlah kajian menunjukkan, potensi produksi garam di seluruh NTT sedikitnya 1,4 juta ton per tahun. Adapun lahan yang bisa dipakai mencapai 20.438 hektar. Kini, baru 10.140 hektar dipakai. Sisanya masih menjadi lahan tidur. Karena itu, perluasan lahan produksi garam amat dimungkinkan.

Direktur Industri Kimia Hulu pada Kemenperin, Fridy Juwono, mengatakan, penambahan luasan lahan akan membuat garam NTT tidak hanya berkualitas. Penambahan lahan juga bisa membuat garam NTT berkuantitas tinggi dan produktivitasnya bisa dipacu.

Baca Juga  KEMMAS Kupang Siapkan Kader Pemimpin Masa Depan Bangsa Melalui MPAB

Selama ini, persoalan kuantitas dan kualitas garam menjadi sebagian faktor pemicu impor garam industri. Fakta kebutuhan garam industri mencapai 85 persen dari kebutuhan nasional menyebabkan impor pun tinggi.

Industri CAP membutuhkan paling banyak dengan tingkat kemurnian paling tinggi. Selanjutnya ada pertambangan dan makanan minuman yang yang juga membutuhkan garam industri.Kebutuhan garam industri menjadi salah satu penyebab Indonesia masih harus terus mengimpor garam. Menurut Fridy, impor garam tidak hanya dilakukan Indonesia.

Amerika Serikat memproduksi garam rata-rata 42 juta ton per tahun. Meski demikian, setiap tahun AS masih mengimpor rata-rata 17 juta ton. Impor garam AS terutama dipakai untuk mencairkan es di berbagai jalan dan fasilitas publik selama musim dingin.

Baca Juga  Serahkan 529 SK PPPK, Bupati Falent Kebo Pesan Jaga Integritas dan Etika Kerja

Ditingkat Regional Dan Nasional
Sementara itu Bupati Malaka Simon Nahak menjelaskan, Malaka dan beberapa penghasil garam di NTT tidak hanya membutuhkan investasi di sektor produksi garam saja. Akan butuh investor untuk pengolahan garam lebih lanjut agar kualitas membaik dan benar-benar memenuhi kebutuhan industri tertentu. “Soal itu, kami percayakan kepada investor,” ungkapnya. Ia meyakini, kehadiran investasi industri garam akan mendatangkan manfaat besar bagi Malaka dan daerah penghasil garam lain di NTT.

“Selain meningkatkan potensi pajak daerah, investasi memberi peluang peningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di Malaka, lahan produksi menggunakan skema kerja sama antara warga dengan investor. Dengan demikian, lahan tetap dimiliki warga sementara investor tetap bisa memanfaatnya”, pungkas Bupati Simon.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Rumah Aspirasi Kaka Stevano dan Kementerian Kebudayaan Gelar Seminar Revitalisasi Budaya di TTU
18 Tahun Menjanda, Sisilia di TTU Bertahan di Rumah Rusak Tanpa Bantuan
Solidaritas Kabupaten TTU untuk Flores, 3 Truk Logistik Dilepas
Wabup TTU Instruksikan Update Data Kependudukan Bulanan, Camat dan Kades Diminta Perketat Pengawasan Desa
BPPD NTT Susun Rencana Aksi 2028, Wabup TTU Soroti 5 Agenda Pembangunan Perbatasan
Pater Krispinus dan Revolusi Hijau di Timor Tengah Utara
Tim Wasev Sterad Tinjau Jembatan Merah Putih, Warga Oenak Suarakan Harapan Baru
Pemkab TTU Salurkan Bantuan Kemanusiaan Senilai Rp 231 Juta untuk Korban Gempa di Ende dan Nagekeo
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 19:39 WITA

Rumah Aspirasi Kaka Stevano dan Kementerian Kebudayaan Gelar Seminar Revitalisasi Budaya di TTU

Rabu, 9 September 2026 - 08:49 WITA

18 Tahun Menjanda, Sisilia di TTU Bertahan di Rumah Rusak Tanpa Bantuan

Sabtu, 5 September 2026 - 19:32 WITA

Solidaritas Kabupaten TTU untuk Flores, 3 Truk Logistik Dilepas

Jumat, 4 September 2026 - 06:39 WITA

Wabup TTU Instruksikan Update Data Kependudukan Bulanan, Camat dan Kades Diminta Perketat Pengawasan Desa

Kamis, 3 September 2026 - 20:08 WITA

BPPD NTT Susun Rencana Aksi 2028, Wabup TTU Soroti 5 Agenda Pembangunan Perbatasan

Berita Terbaru