KEFAMENANU, JURNALNTT – Kementerian Kebudayaan RI bersama Rumah Aspirasi Kaka Stevano menggelar Seminar Semarak Kebudayaan di Aula STIPAS St. Petrus Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, Jumat (11/9/2026).
Seminar dengan tema “Merevitalisasi Budaya sebagai Jati Diri Bangsa” ini merupakan bagian dari komitmen Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Stevano Rizki Adranacus, yang duduk di Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 150 peserta yang terdiri dari mahasiswa STIPAS St. Petrus Kefamenanu, kader GMNI, PERMABI, serta perwakilan organisasi kepemudaan lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Anggota DPR RI Stevano Rizki Adranacus yang diwakili Agustinus Brewon menegaskan, kegiatan ini merupakan wujud nyata kehadiran negara dan wakil rakyat dalam menjaga kebudayaan di daerah.
“Melalui Rumah Aspirasi Kaka Stevano, Bapak Stevano ingin memastikan bahwa kebudayaan tidak hanya menjadi wacana di Jakarta, tetapi hidup dan dirawat di daerah, khususnya di TTU. Di Komisi X, beliau melihat langsung tantangan besar di mana modernisasi seringkali membuat kita tercerabut dari akar. Karena itu, revitalisasi budaya adalah harga mati untuk menjaga jati diri bangsa,” ujar Agustinus Brewon dalam paparannya.
Menurutnya, Kabupaten TTU dan Nusa Tenggara Timur pada umumnya memiliki kekayaan budaya luar biasa, mulai dari tenun ikat, tarian tradisional, bahasa daerah, hingga falsafah hidup yang harus menjadi kebanggaan generasi muda.
“Pesan Bapak Stevano, jangan malu menjadi orang Timor yang berbudaya. Justru budaya lokal kita inilah modal besar untuk bersaing di era global. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Seminar, Peter Usboko, mengatakan kegiatan ini dilatarbelakangi keprihatinan terhadap memudarnya nilai-nilai budaya di kalangan generasi muda akibat derasnya arus globalisasi.
“Semarak Kebudayaan ini kita laksanakan karena keprihatinan bersama. Di tengah arus globalisasi, kaum muda hampir lupa dengan budayanya sendiri,” kata Peter.
la mencontohkan lunturnya budaya terlihat tidak hanya pada tradisi besar, tetapi juga pada kebiasaan sederhana yang menjadi perekat sosial.
“Contoh konkretnya adalah budaya tegur sapa. Sekarang sudah mulai jarang dilakukan, padahal hal-hal sederhana seperti itu merupakan bagian dari budaya yang harus kita pertahankan,” ujarnya.
Peter menambahkan, generasi muda sengaja dipilih sebagai sasaran utama karena memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. la berharap materi seminar tidak berhenti sebagai pengetahuan semata, melainkan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Melalui seminar ini, peserta diharapkanmenjadi pelopor dalam menjaga, melestarikan, dan memperkenalkan budaya lokal kepada generasi berikutnya, sehingga kebudayaan tetap hidup, relevan, dan berdaya saing di tengah perubahan zaman.***
Penulis : Mario
Editor : Maryo Usboko
Sumber Berita: JurnalNTT






