KEFAMENANU, JURNALNTT – Di SMA Negeri Manamas, Kecamatan Naibenu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) , pelajaran tidak hanya terjadi di balik papan tulis. Di sudut halaman sekolah, hamparan kangkung, bayam, cabai, dan tomat tumbuh subur, dirawat langsung oleh para siswa.
Kebun sayur itu adalah jantung dari sebuah gerakan yang mereka sebut Dari Benih ke Piring. Sebuah konsep pembelajaran yang merangkai teori di kelas dengan praktik pertanian di lahan.
Kepala SMA Negeri Manamas, Frederikus Salu, S.Fil., mengatakan, program ini berangkat dari kegelisahan melihat lahan sekolah yang belum dimanfaatkan optimal. Gagasan itu kemudian menguat setelah kunjungan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II (TTU, Belu, Malaka), Paul Kolin, bersama jajaran pengawas pendidikan menengah pada 25 Mei 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kunjungan itu menjadi energi baru. Kami ingin lahan sekolah tidak hanya produktif, tapi juga menjadi media edukasi bagi siswa dan masyarakat sekitar tentang cara mengelola potensi pertanian,” kata Frederikus yang akrab disapa Erik Salu saat ditemui di Kefamenanu, Jumat (16/10/2026).
Menurut Erik, setiap hari pada jam terakhir pelajaran, suasana sekolah berubah. Siswa turun ke kebun dengan pendampingan wali kelas. Mereka belajar berbasis proyek, mulai dari mengolah tanah, menanam benih, merawat, hingga memanen. Hasilnya, sebagian dikonsumsi bersama, sebagian dijual.
Bagi Erik, kebun ini lebih dari sekadar soal ketahanan pangan dan pangan bergizi. Ini adalah sekolah karakter.
“Kami ingin mengubah fixed mindset menjadi growth mindset. Siswa belajar bahwa hambatan adalah tantangan, bahwa sebuah benih butuh ketekunan dan kesabaran untuk tumbuh. Itu pelajaran hidup,” ujarnya.
Nilai itu diamini oleh koordinator proyek pertanian yang juga Pembina OSIS, Udis Hunu, S.Pd. Menurutnya, proses yang panjang di kebun melatih siswa menghargai sebuah usaha.
“Kami tidak ingin lulusan hanya bermimpi jadi ASN. Dari kebun ini, mereka punya bekal keterampilan untuk menciptakan lapangan kerja sendiri di kampungnya,” kata Udis.
Bagi Ketua OSIS, Isa Usnabu, siswa kelas XII, program ini terasa sangat dekat dengan keseharian mereka. Di Naibenu, sebagian besar warga hidup dari pertanian lahan kering.
“Apa yang kami pelajari di kelas bisa langsung kami praktikkan sesuai dengan kondisi lingkungan tempat tinggal. Di kebun, kami juga belajar kerja sama, tanggung jawab, dan peduli lingkungan,” tutur Isa.
Kini, kebun sekolah itu ditanami beragam komoditas, mulai dari kangkung, bayam, kacang panjang, terung, cabai, tomat, hingga jeruk. Dari sana, siswa memahami utuh perjalanan pangan, dari tanah hingga ke piring.***
Penulis : Mario
Editor : Maryo Usboko
Sumber Berita: JurnalNTT






